Tubuh

Gambar

I. Apa itu Tubuh

Tubuh manusia merupakan sebuah komunikasi. Kita bisa mengkomunikasikan diri kita dengan segala apa yang ada dalam pikiran dan hati kita justru dengan tubuh. Tubuh berkaitan dengan siapa itu manusia. Saya bisa mengetahui seseorang itu karena saya tahu bentuk wajah, pinggul, tangan, dan segala yang ada dalam tubuhnya.

Dalam konteks paper ini adalah mencoba memahami tubuh kita masing-masing, dengan mengacu pada apa yang diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Paus ini membangun ajarannya ini dengan mengajak kita kembali ke kitab suci, melihat rencana Allah pada awal mulanya kita diciptakan. Konteks penciptaan ini bisa kita lihat dalam kitab suci yaitu pada kitab kejadian. Sebagai pengantar untuk mampu memahami tubuh kita, Paus ingin mengajak kita memikirkan apa arti hidup kita. Karena ketika kita sedikit melihat kehidupan kita dewasa ini, banyak orang apalagi di kalangan kaum muda yang tidak bisa mengerti apa arti hidupnya: siapakah aku, apa tujuan hidup aku, itu hampir tidak dipikirkan. Atau pun mereka memikirkannya, tetapi mereka menempatkan arti hidup mereka pada sesuatu yang salah. Cobalah kita memikirkannya saat ini, apa arti hidup kita. Apakah untuk bersenang-senang, untuk seseorang atau untuk sesuatu, untuk mengejar prestasi, untuk keluarga, tidak tahu sama sekali, atau untuk Allah?

Mengapa saya menanyakan hal ini? Ketika orang tidak memiliki arti hidup atau salah menempatkannya, orang juga tidak akan mengerti tubuhnya atau menyalahgunakan tubuhnya. Manakala orang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup ini, maka tubuhnya juga digunakan untuk menikmati kesenangannya. Jangan heran orang menyerahkan tubuhnya hanya untuk kepuasan seks, makanan, narkoba, dan sebagainya. Oleh karena itu, sangat perlu kita memiliki pemahaman yang baik akan arti dan tujuan hidup kita, dengan demikian kita juga bisa memaknai tubuh kita. Tubuh kita bukan untuk senang-senang atau untuk sesuatu yang sia-sia atau juga sesuatu yang terbatas.

Dewasa ini kita dikepung dan diserang oleh berbagai macam tantangan dengan segala macam tawaran yang menyesatkan hidup kita, terutama berkaitan dengan tubuh kita. Tantangan yang paling besar adalah dari dunia telekomunikasi seperti TV, Internet, HP, ataupun media lainnya. Dari sana kita akan dibanjiri oleh tawaran-tawaran yang kelihatannya menarik, tetapi sebenarnya sangat menyesatkan. Bagaimana kita bisa memaknai hidup kita. Paus Yohanes Paulus II membantu kita untuk menemukan kembali makna hidup kita. Paus menekankan bahwa Kristus mengajarkan kepada kita bahwa makna hidup kita adalah untuk saling mengasihi sama seperti Dia mengasihi kita. (Yoh 15:12).

II. Apa itu Sakramen

Berbicara mengenai sakramen adalah berarti sakramen-sakramen yang dimaksudkan untuk menguduskan manusia , membangun tubuh Kristus dan akhirnya untuk beribadat kepada Allah. Sakramen tidak saja mengkitaikan iman, tetapi juga mengembangkan, meneguhkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda-benda, sebab itu dinamakan sakramen iman. Sakramen itu memberikan rahmat dan juga untuk mempersiapkan orang beriman dengan sangat baik untuk menerima rahmat dengan berdayaguna, untuk menyembah Allah dan untuk melaksanakan cinta kasih.

Pada masa akhir hidupnya, Paus Yohanes Paulus II menetapkan tahun Ekaristi yang dimulai pada bulan Oktober tahun 2004 sampai bulan Oktober tahun 2005. Hal ini menunjukkan suatu kecintaan yang luar biasa dari Paus Yohanes Paulus II kepada Ekaristi yang diimaninya sebagai Tubuh Kristus sendiri. Teladan iman akan Ekaristi yang ditunjukkannya kepada kita, memiliki nilai yang sangat penting khususnya pada zaman sekarang ini di mana banyak orang Katolik sendiri yang mulai kehilangan iman dan rasa hormat kepada Ekaristi sebagai Tubuh Kristus. Apa sebenarnya Sakramen Ekaristi itu dan bagaimana perannya dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus serta apa yang harus kita lakukan untuk menerima-Nya secara layak dalam hidup kita?

Setiap orang Katolik, tentunya sering mendengar istilah sakramen, baik di dalam Gereja maupun di kalangan umat. Dalam ajaran Gereja Katolik dikenal adanya tujuh Sakramen, yaitu: Sakramen Baptis, Sakramen Tobat, Sakramen Krisma, Sakramen Perminyakan, Sakramen Imamat, Sakramen Perkawinan, dan Sakramen Ekaristi.

Bagaimanakah hubungan semua Sakramen itu dengan Sakramen Ekaristi? Hubungannya adalah bahwa semua Sakramen itu terarah pada Sakramen Ekaristi. Sakramen Baptis memberikan kehidupan yang adikodrati dan ilahi, sementara Sakramen Ekaristi merupakan makanan hariannya, karena Yesus sendiri adalah rotinya. Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma merupakan persiapan yang memampukan kita untuk ikut ambil bagian dalam Sakramen Ekaristi. Sekitainya kita kehilangan hidup adikodrati ini karena dosa, maka Sakramen Tobat akan memulihkan kehidupan dalam rahmat ini sebelum akhirnya kita dapat menerima Komuni lagi secara pantas. Sakramen Imamat memberi kuasa kepada imam untuk menghadirkan Yesus Kristus di altar. Sementara Sakramen Perkawinan merupakan simbol kesatuan cinta antara Kristus, yang adalah Sang Mempelai Pria, dengan jiwa kita dalam Komuni. Sedangkan Sakramen Perminyakan mempersiapkan orang sakit untuk perjamuan Ekaristi Surgawi.

Sakramen Ekaristi merupakan Sakramen dari Sakramen-sakramen. Artinya, Sakramen Ekaristi merupakan perwujudan paling istimewa atau paling unggul dari Sakramen lainnya, karena di dalam Sakramen Ekaristi ini kita disatukan dengan Kristus. Apabila Sakramen lain mengandung karunia-karunia Allah, Sakramen Ekaristi mengandung Allah itu sendiri. Jadi Sakramen-sakramen lain ditetapkan oleh Yesus Kristus untuk mempersiapkan orang kepada Sakramen Ekaristi. Sakramen Ekaristi sesungguhnya merupakan makanan bagi hidup rohani, sebab dari Sakramen inilah mengalir segenap kesempurnaan jiwa. Karena semua kesempurnaan berisikan suatu persatuan dengan Allah, dari semua sarana yang bisa dipakai untuk persatuan dengan Allah, tidak ada yang lebih baik dari Sakramen Ekaristi.

III. Tubuh Sebagai Sakramen

Tubuh manusia adalah sakramen atau sarana kehadiran Allah. Realitas pribadi manusia sebagai citra Allah hadir dalam realitas strukturalkebertubuhannya, bukan sebagai roh murni[1]. Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa tubuh manusia itu adalah sebuah sakramen atau tkita dan sarana kehadiran Allah. Allah itu adalah realitas yang tidak kelihatan. Satu-satunya cara yang memungkinkan realitas Allah ini kelihatan adalah dalam tubuh manusia. Demikianlah tubuh manusia itu menjadi penunjuk pada realitas Allah yang tidak kelihatan itu. Dengan kata lain, dalam “Theology of the body” kita mempelajari Allah yang mewahyukan dirinya dalam tubuh manusia. Yohanes Paulus II mengatakan[2]:

“…tubuh sesungguhnya mampu membuat terlihat apa yang tidak kelihatan, yang spiritual dan yang Ilahi. Tubuh telah diciptakan untuk menyalurkan ke dalam dunia yang kelihatan ini, misteri yang tersembunyi sejak awal dalam diri Allah…dan karena itu tubuh menjadi tkita bagi misteri itu. (TOB; 20 Februari 1980)”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: